PENGABDIAN KEPADA MASARAKAT DEPARTEMEN MKI-BP FPK UNAIR DI AENGDAKE

image
By muhammad pahlevi On Jumat, Oktober 20 th, 2017 · no Comments · In

Pengabdian Masyarakat merupakan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga Dosen memiliki peran yang tidak hanya sebagai agent of transfert knowledgement (ilmu pengetahuan) pada Mahasiswa ataupun cukup sekedar research (penelitian), namun juga harus dapat memberikan kontribusi konkret pada masyarakat (Society depelopment). Atas dasar itulah setiap tahunnya Departemen MKI-BP (Manajemen Kesehatan Ikan dan Budidaya Perairan) FPK UNAIR mengadakan Pengabdian kepada Masyarakat (PengMas)

Kamis, 20 Juli 2017, Bertemakan PELATIHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN METODE LONGLINE DAN PENGENALAN PENYAKIT ICE-ICE SECARA DINI DI DESA AENGDAKE, BLUTO, SUMENEP.

 

Sumenep merupakan produksi terbesar rumput laut di Jawa Timur, sedangkan posisi Desa Aengdake adalah jalur primer yang menghubungkan antara kota Sumenep dengan Surabaya, Jawa Timur. Desa Aengdake juga merupakan lokasi Marine Station Universitas Airlangga dengan luas berkisar 1,8 hektar yang terletak ditepi jalan Nasional km 152 memanjang sampai ke bibir pantai. Lokasi tersebut akan dijadikan pusat penelitian, pengabdian masyarakat dan praktek lapangan bagi Dosen maupun Mahasiswa Unair.

 

Pembicara dan ketua pelaksana Pengmas di Aengdake ini disampaikan langsung oleh Rozi, S.Pi.,M.Biotech. dalam presentasinya, Bpk. Rozi menekankan bahwa sebelum budidaya rumput laut, pemilihan lokasi yang baik adalah kunci keberhasilan budidaya rumput laut ini seperti di selat, atau teluk yang sesuai kebijakan pemerintah contonya Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil (RZWP3K) sehingga lokasi budidaya rumput laut tidak bertabrakan dengan kepentingan lainnya. Kemudian ia melanjutkan Parameter ekologis dan oseanografi juga merupakan kunci yang perlu diperhatikanseperti: arus, kondisi dasar perairan, kedalaman, salinitas, kecerahan, pencemaran, dan ketersediaan bibit yang ungul dan tenaga kerja yang terampil, tegas dosen perikanan Unair ini.

 

Keluhan  nelayan seperti saat momen sesi ngobrol ringan bersama ketua kelompok budidaya rumput laut (Pak Masyuri). beliau mengungkapan “Usaha budidaya rumput laut Echeuma cotonii di desa Aengdake menghadapi masalah penurunan produksi dan kualitas yang tidak dapat diterima oleh pasar”. Iapun melanjutkan, awalnya rumput laut kita dimakan ikan baronang, ditempeli bulu babi, terus lama kelamaan akan berwarna putih, kata orang disini dikenal dengan  penyakit ice ice, sehingga sebagian besar rumput laut tidak dapat dipanen, ungkapnya.

Momen ngobrol ringan bersama Bpk. Mashuri selaku ketua kelompok rumput laut Aengdake.

 

Antusiasme peserta terlihat nyata saat sesi Tanya jawab mewarnai ramainya acara tersebut. Salah satunya peserta bertanya “Kendala utama adalah penyakit ice-ice yang menginfeksi rumput laut dan serangan ikan baronang dan banyak ditempelin bulu babi serta bagaimana menanganinya? Ujar pak sulaiman”. mewarnai. Langkah terbaik adalah dengan cara pencegahan dan pengendalian infeksi penyakit ice-ice tersebut serta pemetaan lokasi budidaya rumput laut berdasarkan faktor ekologis dan oseanografi. Ungkap pak rozi. Beliau melanjutkan Namun untuk menghindari serangan hama seperti rumpul lautnya dimakan ikan baronang atau ditempelin oleh bulu babi, beliau menuturkan pada metode longline di tambahkan jarring dibawah rumput lautnya supaya tidak terserang. Modifikasi metode longline adalah salah satu alternative cara budidaya yang ideal dan tepat untuk diterapkan, imbuh Beliau. Acarapun ditutup dengan sesi foto bersama.

Suasana Pemberian cindera mata secara simbolik oleh wadek 2 FPK Unair dan sharing Materi budidaya Euchema cottonii dengan metode longline dan pengenalan penyakit Ice ice (Dokumentasi Pribadi, 2017)

 

Penulis: Rozi (Fakultas Perikanan dan Kelautan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *